Bookmark and Share
Buku Terbaru
...Segalanya Bagiku
…Segalanya Bagiku, adalah kumpulan kisah nyata yang menginsyafkan banyak orang yang lupa akan peran ibunya sendiri. Inilah kisah sosok SEDERHANA yang MEMPERKAYA kebijaksanaan kita. Buku kecil yang bisa membesarkan hati kita.

- Narsis Dad
Narsis? Di zaman sekarang ini perlu banget deh sikap narsis (ooops, narsis atau pede ya? Baca deh buku ini, entar pasti tahu jawabannya.

Awet Muda, Tetap Cantik, & Sehat Alami
Awet muda. Setiap orang pasti mendambakannya, terutama kaum hawa. Bagaimana dengan Anda? Buku ini berisi tentang tips-tips cerdas sehat alami untuk menunjang keawetmudaan juga kecantikan para wanita.

Beli Buku Lewat SMS

gambarTinggal sms ke 0821 38 388 988, buku dikirim ke rumahmu.

Mau Kirim Naskah?
Catatan Kamu

Tahun 1997 adalah titik awal dalam karir menulisnya, dimana karyanya menjuarai lomba menulis tingkat SMA se-kabupaten Bogor yang diadakan oleh Majalah Gatra, menyusul kemudian dimuat di majalah yang sama.

Arsip Catatan

Leutika Prio

Pemenang WN Sudahkah Merdeka versi Pilihan Leutikans

Dikirim: 08-09-2010 09:29

Pengirim: admin

Potret Negeriku Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Oleh Evi Andriyani

 
Sudah lebih dari setengah abad tepatnya 65 tahun Indonesia merdeka tapi belum kurasakan hal tersebut menjamin sebuah kesejahteraan bangsa Indonesia. Bila kita melihat sejarah perjuangan para pejuang sungguh luar biasa. Mereka rela mempertaruhkan harta, pikiran, tenaga bahkan nyawanya sendiri untuk membela bangsa Indonesia agar segera bebas dari belenggu kebiadaban, kekerasan dan penyiksaan bangsa asing tepatnya penjajah terhadap rakyat Indonesia dan menjadikan rakyat sejahtera. Saat 17 Agustus 1945 di proklamirkan Indonesia merdeka, sungguh bahagia dan makmurnya negeri ini. Namun, secara berangsur-angsur semakin lama negara ini bukan semakin baik keadaannya dan faktanya malah semakin menurun kehidupan yang dialami masyarat Indonesia khususnya.
 
Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan para pejuang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah dengan sebenarnya-benarnya bukan hanya semata-mata merdeka dari penjajah saja tapi merdeka dalam hal memerangi kemiskinan, kebodohan dan membangun Indonesia yang damai, tertib, maju tanpa campur tangan dari pihak asing dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Pencipta-Nya.
 
Akan tetapi semakin bertambah usia kemerdekaan Indonesia, semakin banyak rakyat yang menderita. Terutama di bulan Ramadhan ini, kita melihat begitu banyak rakyat meminta-meminta demi sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya sendiri maupun keluarga. Rakyat miskin bukannya semakin berkurang tapi angka kemiskinan itu semakin bertambah besar. Karena kemiskinan itu, rakyat tak mampu bersekolah tinggi. Walaupun ada sebagian orang yang berjuang untuk meningkatkan kualitas dirinya tapi umumnya banyak yang berputus asa. Makan aja susah apalagi harus bersekolah. Indonesia ternyata belum merdeka.

Sungguh miris kehidupan di negeri Indonesia kita ini. Begitu limpah kekayaaan alam kita, tapi semua habis untuk kebutuhan luar negeri atau keperluan dari pihak-pihak tertentu yang terus mengeruknya hingga pemerintah pun menurut saja keinganan mereka. Bahkan kita sampai impor bahan-bahan pokok dari luar negeri. Seharusnya kekayaan alam itu dapat kita nikmati dengan harga yang murah tapi lihatlah disekeliling kita, harga bahan pokok saja sampai begitu mahal. Masyarakat sederhana saja sudah mengeluh akan mahalnya, apalagi masyarakat dari kalangan bawah. Tak sanggup mata ini melihat televisi, saat bahan sembako dibagikan secara murah, mereka sudah antri untuk membelinya apalagi diberikan secara gratis, bisa sampai ada yang pingsan bahkan meninggal. Astagfirullah.. Saya jadi teringat, saat melakukan baksos (Bakti Sosial) di wilayah terpencil di Jawa Tengah membagikan pakaian gratis dan pengobatan gratis. Mereka begitu sangat senang, bahkan beberapa orang yang tidak mendapat undangan memohon untuk ikut memeriksa kesehatannya. Kelelahan perjalanan yang aku dan teman-teman lakukan dari Jakarta ke Jawa Tengah tersebut tidak terasa karena melihat senyum dan kebahagiaan dibalik wajah mereka
 
Bukan hanya itu saja, dari segi pemerintahan dan pertahanan kita semakin berkurang. Kita melihat kedaulatan negeri kita disepelekan negara lain apabila sekarang lagi hot-nya berita tentang masalah perbatasa Indonesia dengan pihak asing, perampasan hasil kekayaaan Indonesia, dan sebagainya. Bahkan hasil budaya peninggalan bangsa Indonesia bisa diambil atau dipatenkan negera lain. Belum lagi para koruptor masih terus merajalela. Seharusnya pajak-pajak yang kita berikan bisa memakmurkan Indonesia, tapi semua dilahap orang pihak-pihak tertentu yang tidak bermoral, beraklah ataukah ia tidak beriman sehingga tidak takut lagi pada Sang Pencipta yang kelak akan men-azab orang-orang berbuat dosa atau maksiat seperti korupsi uang rakyat.

Sudah saatnya, pemerintah menjadikan momentum hari Proklamasi Kemerdekaan tahun ini sebagai wujud muhasabah perbaikan negeri kita tercinta ini untuk bersikap lebih bijak dalam menghadapi masalahnya. Tunjukkan kepada rakyat bahwa pemerintah kita juga bisa mandiri tanpa harus meminta bantuan dana dari pihak asing. Tunjukkan ketegasan kita dalam membuat sebuah peraturan agar tidak ada negara ataupun pihak-pihak tertentu yang berbuat seenaknya saja terhadap kekayaan alam, budaya dan sumber daya manusia kita. Buatlah hukuman seberat-beratnya bagi para koruptor, pencuri, pengedar narkoba, dan pihak-pihak lain yang tidak bertanggungjawab dan merusak keharmonisa serta kedamaian negeri kita. Kalau perlu tidak ada keringanan yang diberikan. Mirisnya lagi, saya melihat banyak keringanan hukuman yang diberikan kepada para koruptor atau mafia-mafia lain. Hal tersebut membuat semakin manja dan senang bahkan penjahat tersebut bisa kembali lagi melakukan hal tersebut karena merasa tidak jera dengan hukuman yang diperolehnya.

Pemerintah harus bersikap dengan tegas dan cerdas serta tidak takut dengan tekanan orang-orang yang kaya atau pejabat-pejabat dalam dunia politik sehingga arah pembanguan negeri kita ini benar-benar untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan para kapitalis, liberal, dan lain-lain serta pemerintah juga harus lebih  bijak dalam menjalin hubungan keharmonisan persahabatan dengan negara tetangga. Sudah saatnya juga pemuda-pemudi Indonesia untuk bangkit, mengembangkan sayap-sayapnya, bertebaran di muka bumi untuk membantu pemerintah kita, menolong rakyat kita yang tidak mampu dan bersatu untuk memajukan bangsa Indonesia menjadi negara yang aman, tentram, damai dan disertai dengan akhlak mulia, beriman dan bertakwa kepada Sang Pencipta. Sudah saatnya kita menambah ilmu pengetahuan kita, menguatkan semangat kita dan berjuang mengukir sejarah kembali untuk  mewujudkan Indonesia Merdeka. Lakukan yang terbaik dan optimislah bahwa hari esok pasti Indonesia menjadi jaya. Sehingga tiada lagi resah dan airmata. Yakinlah bahwa Sang Pencipta selalu bersama orang-orang yang menyeru pada kebaikan.